Ikan Sudah Ditangkap, Lalu Apa? Perjalanan Panjang dari Laut ke Pasar

Raditya Muhamad Aldan | 29 Juli 2026

“Tiga penelitian tentang perikanan tangkap di Sulawesi Tengah, Lampung, dan Malang menunjukkan bahwa kesejahteraan nelayan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan, tetapi juga oleh bagaimana rantai pasok, pasar, dan tata niaga bekerja setelah ikan didaratkan.”



Hasil tangkapan nelayan menjadi awal dari perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen. Di sepanjang rantai tersebut, kualitas, distribusi, dan akses pasar turut menentukan nilai ekonomi yang dihasilkan.

Bagi banyak orang, ikan yang tersaji di meja makan terlihat seperti sebuah produk yang sederhana. Namun bagi nelayan, perjalanan ikan sebenarnya baru dimulai ketika hasil tangkapan berhasil dibawa pulang. Setelah didaratkan, ikan harus melewati berbagai proses: ditimbang, dijual, dikumpulkan, didistribusikan, disimpan, diolah, hingga akhirnya sampai ke pasar dan konsumen. Di sepanjang perjalanan itu, banyak pihak terlibat. Ada nelayan, pedagang pengumpul, distributor, pengolah, hingga pelaku usaha yang membawa produk ke pasar yang lebih luas.

Tiga penelitian dari Sulawesi Tengah, Lampung, dan Malang menunjukkan bahwa rantai panjang inilah yang ikut menentukan seberapa besar nilai ekonomi dari hasil laut dapat bertahan dan dirasakan oleh masyarakat pesisir.

Ketika masalah di pasar kembali dirasakan nelayan

Pengalaman Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, memberikan gambaran yang jelas. Saat pandemi Covid-19, aktivitas penangkapan ikan di lapangan tidak selalu berhenti. Namun, pasar yang biasanya menerima hasil tangkapan mengalami gangguan. Penurunan kapasitas industri pembekuan ikan dan pembatasan distribusi di sejumlah wilayah membuat permintaan terhadap ikan dari Tolitoli menurun. Akibatnya, harga ikan ikut turun dan pendapatan nelayan terdampak.

Ikan tuna dan cakalang yang sebelumnya bisa dipasarkan ke berbagai daerah seperti Bitung, Palu, Surabaya, Jakarta, bahkan Jepang, mengalami penyempitan pasar selama pandemi. Jalur pemasaran menjadi lebih terbatas.  Penelitian tersebut menemukan bahwa kinerja rantai pasok perikanan di Tolitoli baru mencapai 71,53 persen dari kondisi ideal 100 persen. Perbaikan terutama dibutuhkan pada ketepatan waktu dan mutu ikan.

Pesannya sederhana bahwa “nelayan tidak bekerja sendirian. Ketika satu bagian dari rantai pasok terganggu, dampaknya bisa menjalar ke seluruh pelaku, termasuk nelayan yang berada di ujung awal rantai.”

 

Rajungan bernilai tinggi, tetapi manfaatnya belum tentu terbagi rata














Cerita berbeda datang dari pesisir timur Provinsi Lampung.

Rajungan merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Perdagangannya melibatkan banyak pihak, mulai dari nelayan, pedagang pengumpul atau bakul, miniplant, hingga unit pengolahan yang terhubung dengan pasar ekspor.

Pada 2020, ketika pandemi berlangsung, ekspor rajungan Lampung tercatat mencapai 1.482,84 ton dengan nilai Rp353,02 miliar. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya komoditas rajungan bagi perekonomian masyarakat pesisir dan daerah. Namun, nilai ekonomi yang besar tidak otomatis berarti semua pelaku mendapatkan manfaat yang sama.

Penelitian tersebut menemukan bahwa sistem tata niaga rajungan tidak selalu menguntungkan nelayan. Salah satu persoalannya adalah mekanisme bagi hasil yang proporsinya dinilai lebih menguntungkan pemilik modal. Manfaat ekonomi perdagangan rajungan juga tidak seluruhnya berputar di Lampung karena sebagian pelaku usaha berasal dari luar daerah.

Di saat yang sama, tingginya permintaan pasar juga membawa tantangan lain. Intensitas penangkapan yang semakin tinggi dan eksploitatif menjadi ancaman bagi stok dan ekosistem rajungan.

Artinya, “komoditas yang laku keras di pasar belum tentu otomatis membuat masyarakat pesisir lebih sejahtera. Jika tata niaga tidak dikelola dengan baik, manfaat ekonomi bisa tidak tersebar secara merata. Jika sumber dayanya terus ditekan, keuntungan hari ini juga bisa mengorbankan penghidupan di masa depan.”

 

Ketika satu titik tersendat, kerugian bisa ikut mengalir

Di sepanjang rantai pasok, hasil perikanan berpindah dari satu pelaku ke pelaku lainnya. Setiap tahapan mulai dari penanganan, pengumpulan, pengolahan hingga distribusi memiliki peran dalam menjaga kualitas dan nilai ekonomi produk.

Hal serupa terlihat dalam penelitian mengenai rantai pasok tuna di Pondokdadap, Malang. Di wilayah ini, hasil tangkapan Tuna, Cakalang, dan Tongkol (TCT) bergerak melalui rantai yang cukup panjang. Produk dapat mengalir dari nelayan menuju pedagang pengumpul, unit pengolahan kecil, unit pengolahan besar atau eksportir, hingga konsumen luar negeri. Ada pula jalur yang berakhir di pasar lokal melalui UMK perikanan.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus.

Penelitian menemukan berbagai risiko, mulai dari dermaga yang penuh, musim panen, kualitas ikan yang tidak sesuai standar, hingga perubahan jumlah pesanan secara mendadak. Bagi nelayan, masalah seperti ini bukan sekadar gangguan teknis. Penurunan kualitas ikan dapat memengaruhi harga. Keterlambatan bongkar muat dapat memperpanjang waktu ikan berada di kapal. Sementara itu, perubahan permintaan dapat mengganggu hubungan antara nelayan, pengumpul, dan pengolah.

Dampaknya dapat dihitung secara ekonomi.

Potensi kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp6,38 juta per trip bagi nelayan sekoci dan Rp2,85 juta per trip bagi nelayan purse seine. Pada pedagang pengumpul atau distributor, potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp121,13 juta per pengiriman. Ini menunjukkan bahwa menjaga keberlanjutan usaha perikanan bukan hanya soal menangkap lebih banyak ikan.

“Cara ikan ditangani, disimpan, dikirim, dan dipasarkan juga menentukan nilai ekonomi yang akhirnya tercipta.”


Jadi, apa yang sebenarnya perlu diperbaiki?

Jika ketiga penelitian ini dibaca bersama, satu hal menjadi semakin jelas bahwa rantai pasok perikanan perlu diperkuat dari hulu hingga hilir.

Nelayan membutuhkan akses pasar yang lebih baik. Infrastruktur pelabuhan dan transportasi perlu mendukung pergerakan produk. Penanganan ikan harus diperbaiki agar kualitas tidak cepat turun. Informasi pasar perlu lebih terbuka. Hubungan antara nelayan, pedagang, distributor, dan pengolah juga perlu dibangun dengan lebih baik.

Penelitian di Tolitoli, misalnya, merekomendasikan peningkatan transportasi, perbaikan teknologi pengolahan dan penanganan mutu, kolaborasi antar pelaku, serta kemitraan antara nelayan dan pedagang atau distributor agar manfaat ekonomi dapat lebih merata.

Sementara di Pondokdadap, strategi yang diusulkan mencakup pelatihan penanganan ikan, pengembangan fasilitas pelabuhan, penambahan rumpon antar kelompok nelayan, penerapan disiplin kerja, hingga kesepakatan pemesanan atau kontrak produksi.

Untuk rajungan di Lampung, tantangannya bahkan lebih luas, karena harus memastikan perdagangan tetap memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mengorbankan sumber daya yang menjadi sumber penghidupan mereka.

 

Perikanan yang kuat dimulai dari rantai yang kuat

Selama ini, keberhasilan perikanan sering kali dilihat dari berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap atau seberapa besar nilai ekspornya.

Padahal, ada cerita yang jauh lebih panjang di baliknya.

Ada nelayan yang berangkat melaut. Ada ikan yang harus segera didaratkan. Ada pedagang yang mengumpulkan. Ada pengolah yang menjaga kualitas. Ada distributor yang mengirimkan. Ada pasar yang menentukan permintaan.

Semua saling terhubung.

Ketika satu bagian terganggu, dampaknya dapat dirasakan oleh bagian lain. Dan ketika satu bagian diperkuat, manfaatnya juga berpotensi mengalir lebih jauh.

“Karena itu, membangun perikanan yang kuat tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah hasil tangkapan. Kita juga perlu memastikan bahwa ikan yang sudah ditangkap dapat bergerak melalui rantai pasok yang efisien, mendapatkan nilai yang layak, dan tetap berasal dari sumber daya yang mampu bertahan dalam jangka panjang.”

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hanya laut yang mampu menghasilkan ikan, tetapi juga sistem yang mampu mengubah hasil laut menjadi penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut.