Ketika Laut Mulai Pulih, Tetapi Nelayan Belum Sepenuhnya Sejahtera

Raditya Muhamad Aldan | 30 Juni, 2026


Nelayan skala kecil menjadi aktor utama dalam perikanan Indonesia, namun juga menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perubahan kebijakan dan tekanan sumber daya laut.


Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menunjukkan langkah tegas dalam memberantas praktik Illegal, Unreported, and Unregulated fishing (IUU fishing). Mulai dari penenggelaman kapal ilegal hingga penguatan pengawasan di laut, semua ini jadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga sumber daya perikanan.


Upaya ini tentu bukan tanpa alasan. Praktik illegal fishing telah lama menjadi masalah besar, dengan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Bukan hanya soal uang, aktivitas ini juga mengancam keberlanjutan sumber daya ikan, merusak ekosistem laut, dan bahkan berdampak pada ketahanan pangan di tingkat global.


Sekilas, kondisi ini seharusnya membawa kabar baik. Ketika praktik ilegal mulai ditekan, stok ikan punya kesempatan untuk pulih dan ruang tangkap bagi nelayan lokal menjadi lebih terbuka. Namun, kenyataan di lapangan ternyata tidak sesederhana itu.


Bagian 1 : Manfaat Belum Merata di Balik Penurunan Illegal Fishing

Penelitian di Natuna menunjukkan satu hal yang cukup mengejutkan, yakni berkurangnya aktivitas illegal fishing ternyata tidak otomatis membuat nelayan kecil jadi lebih sejahtera. 

“The decrease of IUUF… does not automatically improve the welfare of fishers” 

Berharap kondisi membaik, sebagian nelayan justru merasakan tekanan ekonomi yang semakin besar. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyak orang yang masuk ke sektor perikanan, sehingga persaingan antar nelayan pun semakin ketat.

“Increase competition among local fishers” 

Dampaknya, meskipun sumber daya ikan mulai pulih, hasil tangkapan yang didapat setiap nelayan belum tentu ikut meningkat. Situasi ini menunjukkan bahwa manfaat dari kebijakan belum dirasakan secara merata, terutama oleh nelayan kecil yang memiliki keterbatasan. 


Bagian 2 : Kebijakan yang Baik, Tapi Dampaknya Belum Merata


Kondisi serupa juga terlihat pada kebijakan pelarangan alat tangkap seperti pukat hela dan pukat tarik. Dari sisi tujuan, kebijakan ini sebenarnya sangat jelas dan penting, yaitu untuk melindungi sumber daya ikan yang sudah mengalami tekanan berlebih agar tetap berkelanjutan di masa depan.


Namun ketika kebijakan ini diterapkan di lapangan, dampaknya tidak selalu sederhana, terutama bagi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada aktivitas penangkapan ikan. Bagi sebagian nelayan, perubahan ini justru membawa tantangan baru. Ada yang kehilangan mata pencaharian karena tidak lagi bisa menggunakan alat tangkap yang biasa dipakai, ada juga yang mengalami penurunan pendapatan karena harus beradaptasi dengan cara menangkap ikan yang berbeda, yang belum tentu langsung efektif.


Dalam situasi seperti ini, tekanan ekonomi sering kali tidak berdiri sendiri. Perubahan yang terjadi juga bisa memicu persoalan sosial lain, seperti meningkatnya ketegangan di antara nelayan maupun antara nelayan dan pihak pemerintah.


Dari sini terlihat satu hal penting bahwa kebijakan yang dirancang untuk menjaga lingkungan memang sangat dibutuhkan, tetapi belum tentu langsung terasa adil bagi semua pihak. Terutama bagi masyarakat pesisir yang terdampak langsung, proses penyesuaian sering kali tidak mudah dan membutuhkan waktu, dukungan, serta solusi yang benar-benar sesuai dengan kondisi mereka di lapangan.


Bagian 3 : Masalahnya Bukan Cuma Illegal Fishing

Kalau dilihat lebih dalam, masalahnya sebenarnya tidak berhenti pada praktik illegal fishing saja. Ada persoalan lain yang lebih mendasar, yaitu ketimpangan kapasitas dan akses di antara para nelayan, terutama nelayan kecil.


Di lapangan, tidak semua nelayan berada pada posisi yang sama. Banyak di antaranya masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari teknologi yang sederhana, akses pasar yang belum terbuka luas, hingga keterbatasan modal. Belum lagi posisi tawar yang cenderung lemah, membuat mereka sulit bersaing dalam sistem perikanan yang semakin kompleks. 


Akibatnya, ketika kebijakan mulai membuka peluang baru misalnya setelah aktivitas illegal fishing berhasil ditekan. Tidak semua nelayan bisa langsung memanfaatkannya. Sebagian memang bisa bergerak lebih cepat, tapi sebagian lainnya justru tertinggal.


Di sinilah terlihat adanya jarak yang cukup jelas di satu sisi, ada keberhasilan di tingkat nasional yang terlihat positif, tetapi di sisi lain, kondisi di tingkat nelayan belum sepenuhnya mencerminkan hal yang sama. Dengan kata lain, apa yang terlihat berhasil di tingkat makro, belum tentu terasa dampaknya di tingkat mikro.


Bagian 4 : Melangkah Lebih Jauh Bukan Sekadar Pengendalian


Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Upaya pengendalian seperti pemberantasan illegal fishing dan pengaturan alat tangkap telah memberi dampak positif, terutama dari sisi lingkungan.


Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa manfaat dari kebijakan tersebut juga benar-benar dirasakan oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan kecil yang menjadi garda terdepan di sektor ini.


Artinya, pendekatan kebijakan tidak bisa berhenti pada tahap pengendalian saja. Bukan lagi sekadar menertibkan praktik ilegal, tetapi perlu upaya yang lebih luas untuk mendorong perubahan ekonomi yang lebih inklusif dan adil.


Untuk itu, ada beberapa hal yang menjadi kunci. Mulai dari memperkuat kapasitas nelayan kecil agar lebih siap beradaptasi, membuka akses yang lebih luas terhadap teknologi dan pasar, hingga menyiapkan strategi transisi ekonomi bagi mereka yang terdampak langsung oleh kebijakan. Tanpa dukungan ini, nelayan akan kesulitan mengikuti perubahan yang terjadi.


Bagian 5 : Menjaga Laut, Menjaga Kehidupan


Keberhasilan pengelolaan laut tidak cukup hanya dilihat dari pulihnya stok ikan atau berkurangnya kapal ilegal. Angka-angka itu penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa laut tetap terjaga, sekaligus nelayan yang menggantungkan hidupnya di sana bisa hidup dengan lebih layak dan pasti.


Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar sumber ekonomi. Laut adalah ruang hidup, tempat mencari nafkah, sekaligus warisan yang dijaga dari generasi ke generasi. Karena itu, tidak bisa hanya berhenti pada aspek lingkungan. Tetapi perlu berjalan seiring dengan upaya memastikan bahwa mereka yang paling dekat dengan laut tidak tertinggal, melainkan ikut merasakan manfaatnya.


“Laut yang benar-benar sehat adalah laut yang tidak hanya kaya akan sumber daya, tetapi juga mampu menghidupi dan menyejahterakan orang-orang yang bergantung padanya”