CSF Indonesia dan IPB University Perkuat Kemitraan di Hari Laut Sedunia 2026
Setia Dewi | 8 Juni 2026
Dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia 2026, CSF Indonesia (Yayasan Strategi Konservasi Indonesia) dan IPB University memperkuat kemitraan strategis yang telah terjalin selama satu dekade melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan penyelenggaraan kuliah umum bertema Integrating Archipelagic System Thinking. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Senat Gedung Andi Hakim Nasoetion, IPB University, ini dihadiri oleh akademisi, mahasiswa pascasarjana, alumni, serta perwakilan organisasi konservasi dan pembangunan.
Momentum Hari Laut Sedunia menjadi pengingat bahwa tantangan pembangunan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kondisi laut dan ekosistem darat yang saling terhubung. Dalam sambutannya, para narasumber menekankan pentingnya memandang Indonesia sebagai negara lautan yang dihuni oleh pulau-pulau, bukan sekadar kumpulan pulau yang dipisahkan oleh laut. Perspektif ini menjadi fondasi bagi pengembangan konsep Archipelagic Science yang saat ini terus dikembangkan oleh IPB University.

Penandatanganan MoU oleh C. Desta Pratama (Direktur CSF Indonesia) dan Prof. Iskandar Zulkarnaen (Wakil Rektor Bidang Konektivitas Global, Kerjasama dan Alumni, IPB University)
CSF Indonesia turut berbagi pengalaman selama hampir satu dekade melakukan penelitian ekonomi lingkungan, pelatihan peningkatan kapasitas, dan advokasi kebijakan berbasis bukti. Melalui lebih dari 100 kajian dan 37 program pelatihan yang telah menjangkau lebih dari 650 alumni, organisasi ini menunjukkan pentingnya pendekatan ekonomi dalam membantu pengambilan keputusan konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Salah satu fokus utamanya adalah membuat nilai jasa ekosistem yang sering tidak terlihat dalam indikator ekonomi konvensional menjadi lebih terukur dan diperhitungkan dalam kebijakan publik
Diskusi juga menyoroti semakin besarnya kebutuhan untuk mengintegrasikan perspektif darat dan laut dalam pembangunan. Para pembicara menjelaskan bahwa ekonomi biru tidak dapat dipahami sebagai sektor yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sistem yang dipengaruhi oleh tata ruang, kebijakan ekonomi, kelembagaan, hingga penegakan hukum. Karena itu, pendekatan system thinking diperlukan untuk memahami hubungan antara aktivitas di daratan dan dampaknya terhadap ekosistem laut.
Konsep Archipelagic Thinking yang diperkenalkan dalam kuliah umum mendorong lahirnya cara pandang yang lebih holistik terhadap Indonesia sebagai negara kepulauan. Pendekatan ini tidak hanya menggabungkan ilmu kelautan dan ilmu daratan, tetapi juga menghubungkan pengetahuan ilmiah, kearifan lokal, serta kebutuhan pembangunan masa depan. Para pembicara sepakat bahwa kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor menjadi kunci untuk mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dr, Tukul Rameyo Adi menjelaskan tentang Negara Nusantara dan Archipelagic Thinking
Kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara CSF Indonesia, IPB University, LRI i-MAR, mahasiswa, peneliti, dan organisasi mitra. Sejumlah rencana tindak lanjut telah diidentifikasi, termasuk penelitian bersama, program magang, kuliah tamu, pengembangan kurikulum, dan berbagai program peningkatan kapasitas di bidang ekonomi lingkungan, ekonomi biru, pembiayaan konservasi, serta pembangunan berkelanjutan.
Foto bersama narasumber dan peserta kegiatan
