Menuju Sintang Lestari: Kisah Kolaborasi dan Perubahan Cara Pandang
Oleh Dedek A. Gunawan | July 22, 2025
Kabupaten Sintang di Kalimantan Barat memiliki kekayaan hutan, keanekaragaman hayati, dan sistem perairan tawar yang menopang kehidupan masyarakat adat Dayak dan Melayu. Namun, seperti banyak wilayah lain di Indonesia, Sintang menghadapi tekanan pembangunan yang menantang keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Menjawab tantangan ini, pemerintah daerah menetapkan visi Sintang Lestari—sebuah komitmen untuk menyelaraskan pembangunan dengan keberlanjutan lingkungan.
Sejak 2018, CSF Indonesia (Yayasan Strategi Konservasi Indonesia/YSKI) mendampingi Kabupaten Sintang dalam perjalanan menuju pembangunan berkelanjutan, sebagai bagian dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Selama lebih dari enam tahun, CSF Indonesia menggunakan pendekatan ekonomi lingkungan dan alat ekonomi untuk pengambilan keputusan, guna membantu pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan memahami bahwa perlindungan alam dan pembangunan ekonomi dapat, dan harus, berjalan seiring.
Pendampingan CSF Indonesia dilakukan melalui tiga fase utama. Fase awal berfokus pada pembangunan fondasi bersama, termasuk dialog multipihak, studi dasar lintas sektor, serta penyusunan visi jangka panjang Sintang Lestari yang kemudian diformalkan melalui Rencana Aksi Daerah Sintang Lestari (RAD-SL). Proses ini menjadi titik awal perubahan pola pikir, khususnya di kalangan aparatur pemerintah, bahwa lingkungan bukan penghambat pembangunan, melainkan aset ekonomi jangka panjang.
Fase berikutnya menitikberatkan pada penguatan kapasitas dan komitmen lokal, dengan pelatihan terkait indikator pembangunan berkelanjutan, Green GDP, akuntansi karbon, serta Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). CSF Indonesia juga mendukung integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah, memastikan visi Sintang Lestari tercermin dalam kebijakan dan investasi publik.
Pada fase lanjutan, CSF Indonesia mendukung implementasi di sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, perikanan perairan tawar, dan ketahanan pangan. Berbagai alat ekonomi, termasuk Green Budget Tagging, digunakan untuk menilai sejauh mana anggaran daerah selaras dengan tujuan keberlanjutan. Pendekatan ini membantu pengambil keputusan memahami trade-off pembangunan dan membuat pilihan yang lebih berimbang antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan ekosistem.
Perjalanan Sintang menuju keberlanjutan menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya membutuhkan kebijakan dan data, tetapi juga kolaborasi dan pergeseran cara pandang. Melalui kombinasi analisis ekonomi, perencanaan partisipatif, dan penguatan kapasitas, CSF Indonesia berkontribusi dalam membangun tata kelola pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kisah Sintang menjadi contoh bahwa dengan kolaborasi yang kuat dan dasar ekonomi lingkungan yang kokoh, visi pembangunan lestari dapat diwujudkan.
Mantan Direktur CSF Indonesia, Mubariq Ahmad, menerima cendera mata dari Pemerintah Kabupaten Sintang. Poster tersebut menampilkan sidik jari seluruh pemangku kepentingan utama, yang melambangkan komitmen bersama dan kolaborasi kami untuk Bumi.
Perwakilan Kabupaten Sintang dan Tim YSKI


