Menguatkan Model Bisnis Pengelolaan Kawasan Konservasi Pulau Lepar–Pongok
Dinda Ratnasari | 22 Juli 2026
Kawasan Konservasi Pulau Lepar–Pongok di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki ekosistem pesisir dan laut yang mendukung berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari perikanan tangkap dan budidaya laut hingga wisata bahari. Potensi tersebut perlu dikelola secara tepat agar pemanfaatan ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Melalui program Groundwork Analysis Blue Economy, tim GWA BE Bangka Belitung mengembangkan penelitian bertajuk “Model Bisnis Pengelolaan Kawasan Konservasi Pulau Lepar–Pongok melalui Pendekatan Spasial Ekonomi.” Penelitian ini mengintegrasikan pemetaan pemanfaatan kawasan, evaluasi efektivitas pengelolaan, valuasi jasa ekosistem, dan analisis kelayakan model bisnis kelembagaan.
Sebagai bagian dari proses penelitian, tim bersama mentor Dr. Taryono Kodiran dan C. Desta Pratama melaksanakan site visit pada 1–3 Juli 2026. Kegiatan mencakup Focus Group Discussion atau FGD bersama pemangku kepentingan, observasi lapangan di Pulau Kelapan, diskusi dengan pelaku usaha wisata dan wisatawan, serta pertemuan bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan yang dihadiri oleh Bappeda dan Dinas Pariwisata.

Diskusi dengan Masyarakat Pulau Lepar–Pongok (Foto: Tim Kajian)
Site visit dilakukan untuk memvalidasi hasil penelitian dan memastikan bahwa analisis yang disusun sesuai dengan kondisi aktual kawasan. Melalui kegiatan tersebut, tim memperoleh masukan mengenai efektivitas pengelolaan, kebutuhan kelembagaan, potensi pengembangan wisata bahari, pembiayaan operasional, serta peluang penerimaan yang dapat mendukung pengelolaan kawasan konservasi.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi atau EVIKA, dari 27,65 persen pada penilaian tahun 2024 menjadi 31,20 persen pada evaluasi sementara tahun 2025. Meskipun demikian, pengelolaan kawasan masih berada dalam kategori minimum atau perunggu. Beberapa aspek yang perlu diperkuat mencakup kelembagaan pengelola, sumber daya manusia, pembiayaan, sistem basis data, pemantauan pemanfaatan kawasan, serta pengukuran dampak sosial ekonomi dan kondisi biofisik.
Kunjungan ke Pulau Kelapan juga memperlihatkan adanya peluang pengembangan wisata bahari melalui kegiatan keliling pulau, snorkeling, menyelam, memancing rekreasi, dan berkemah di pulau-pulau kecil. Namun, kegiatan wisata masih berada pada tahap awal, dengan jumlah penyedia jasa yang terbatas dan aktivitas yang umumnya berlangsung berdasarkan permintaan wisatawan. Temuan ini menjadi dasar untuk menyusun strategi pengembangan wisata yang tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kapasitas masyarakat lokal.
Pendekatan tim tidak berhenti pada pemetaan potensi kawasan. Analisis spasial dan ekonomi lingkungan digunakan sebagai dasar untuk merumuskan model pengelolaan yang aplikatif, antara lain melalui:
finalisasi pemetaan area perikanan, budidaya laut, dan wisata bahari;
pengolahan data Willingness to Pay menggunakan pendekatan Contingent Valuation Method;
pendalaman evaluasi EVIKA dan faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pengelolaan;
identifikasi kebutuhan biaya operasional dan potensi penerimaan kawasan; serta
penyusunan model bisnis kelembagaan melalui analisis Cost-Revenue dan Net Present Value.
Masukan dari pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan akan digunakan untuk memastikan bahwa rekomendasi penelitian selaras dengan kebutuhan masyarakat, kebijakan pembangunan daerah, dan kondisi pengelolaan kawasan. Melalui integrasi antara hasil penelitian, observasi lapangan, dan konsultasi multipihak, model bisnis yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung pengelolaan Kawasan Konservasi Pulau Lepar–Pongok yang lebih efektif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

FGD dengan Pemerintah Daerah (Foto: Tim Kajian)